Cerita tentang si anak tengah.

Ini postingan udah mengendap lama di draft. Maju mundur mau diposting, tapi yaudahlah mari di posting sebagai pengingat salah satu milestone penting dalam hidup saya. Pencapaian yang mungkin buat beberapa org yang perjalanan hidupnya asik-asik aja mah ini jadi cerita kurang penting. Tapi buat saya, penting banget dong. Makanya di posting hehe. 😎😎😂

Postingan ini tentang si anak tengah.

Si anak tengah itu, sekarang sudah memaafkan segala masa lalunya yang kurang bahagia. Sudah menerima dirinya seutuhnya. Sudah bahagia dg segala pengalaman yg dia dapetin karena dia anak tengah yg dulunya sering ngerasa serba salah dirumah. Org tuanya suka lebih fokus sama kakaknya, yang jadi andalan, lebih pinter, lebih diharapkan, atau lebih protektif sama adik bungsunya yang gak terlalu bisa dikasih tekanan, dilindungi dan disayang kemana-mana. Anak tengah itu gimana? Ya daripada stress minta-minta perhatian ga dapet-dapet, akhirnya dia sibuk main di luar. Sekolah sibuk ikut les sana-sini, ekskul aneka ragam, menclok ke komunitas ini itu, masuk kampus jadi aktivis, jadi terkenal di kalangan dosen karena sering jadi babunya bantuin ngerjain ini itu. Akhirnya si anak tengah malah dapat teman dimana-mana, lebih struggle, nyari duit tambahan dimana aja dijabanin, ngeles ampe malem, jualan cemilan ke kampus, sampe keliling jakarta jadi surveyor biar dapet tambahan, semuanya sendiri. Bukan dari kakaknya yang udah kerja terus katanya yang diandalkan ortunya buat bantu adiknya. Dan juga bukan dari adiknya yang kelebihan karena dikasih terus ortunya. Si anak tengah survived. Bahkan setahun ke belakang nekat merantau ke perbatasan, sedangkan kakak dan adik lelakinya tetap di bawah pelukan mamah.

Setelah pergulatan emosi yang panjang, penerimaan yang sulit, komunikasi yang tak bisa dibilang mulus, lots of unfinished bussiness, luka hati, merasa terabaikan, sekarang saya selesai dengan semua itu. Saya memaafkan mereka dan juga memaafkan diri saya.

I’m proud of my self. I am happy as my self.

Dan suatu hari nanti, saat saya menjadi orangtua.. saya ingin memastikan jika setiap anak saya bisa mendapat perhatian, kasih sayang dan kecukupan finansial seadil-adilnya. Janjiiii… !!!

***

Believe or not.. kejadian-kejadian ini yang bikin saya takut menikah. Takut punya anak. Takut ngga bisa jadi orangtua yang buruk. Takut sekali. Tapi perlahan sekarang udah sembuh. Self healing itu butuh waktu yang panjang dan kerelaan hati untuk mengakui kalau diri kita bermasalah, butuh dibantu, butuh disembuhkan. Dan terimakasih diriku, udah mau perlahan disembuhkan.

Sekarang si anak tengah udah biasa aja komunikasi sama kakak adeknya. Bisa bbm tanpa canggung lagi, bisa sms sayang-sayangan sama adeknya..meski ya ga bisa semesra keluarga lain kayaknya. Hehee.

Advertisements

3 thoughts on “Cerita tentang si anak tengah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s