mamas VS pak pulisi

Selamat pagi semuanya. Kali ini mau jembrengin tulisan yang agak serius karena yang nulisnya emang rada serius orangnya. Yup, simamas pacar semata wayang yang suka diem-diem saya gosipin di mari pengen numpang nulis. Dia lagi kesel karena minggu kemarin abis di palak Pak Pulisi saat perjalanan menuju jakarta buat menemui kekasihnya ini eh maksudnya buat ngehadirin acara sebuah komunitas di Jakarta. Kan simamas ceritanya pengen jajal ilmu mau naik motor dari Lampung ke Jakarta berdua sama temennya. Saya yang level parnonya gampang naik ini tentu saja super khawatir. Takut mereka menemui kendala di perjalanan, takut nyasar ah pokonya takut banget.. sampe mungkin mereka yang jadi ketakutan sama saya karena dikit-dikit di teror lewat SMS nanyain posisi mereka di mana.. hihi.  Ya namanya juga khawatir kan… manalagi mereka baru masuk jakarta pas malem hari. Saya aja yang udah hampir 5 tahun tinggal di jakarta pasti masih gelagapan kalo disuruh bawa motor malem-malem. Pasti nyasar dijamin. Okelah, mari pemirsa kita denger kisah dan pengalaman sendu dari si mamas yang apes kena palak pak pulisi nakal yang kemudian kami rutuki karena tidak berperikeLDR-an, malak anak orang yang jauh-jauh dari seberang yang menyebabkan duit melayang gak bisa dipake mamas teraktir cewenya ini makan siomay gitu.

Halo para pembaca blog si Neng, saya mau ikutan numpang curhat disini lah. Katanya si Neng sih blognya banyak yang baca, meski saya mah ndak percaya sih. Paling karangan dia aja. Jadi ceritanya saya yang rumahnya di Lampung minggu kemarin melakukan perjalanan berdua sama temen saya dari Bandar Lampung menuju Jakarta, tepatnya Pulo Gadung, Jakarta Timur dengan mengendarai sepeda motor. Selama perjalanan dari Bandar Lampung-menyeberangi selat sunda-hingga Tangerang tidak ada kendala sama sekali. Saat tiba di Jakarta, kami menyempatkan istirahat untuk sholat magrib dan isya di sekitaran terminal Kalideres. Setelah istirahat dan sholat dirasa cukup, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pulo Gadung. Sebelum jalan, saya dan teman melakukan pengecekan rute jalan menggunakan GPS. Karena memang baru pertama kali juga ke Jakarta dengan sepeda motor. Setelah tahu rute mana yang harus dilewati kami pun jalan.

Selama perjalanan, teman saya tetap mengecek ke GPSnya dan memperhatikan marka jalan yang ada. GPS menunjukkan rute perjalanan yang melewati wilayah monas, otomatis marka jalan yang kami lihat yang menunjuk ke arah monas. Sesaat sebelum tiba di kawasan monas, kami agak heran. Jalanan yang kami lewati sedikit kendaraan sepeda motor yang melintas. Tiba di jalan yang agak menikung, ternyata sudah berdiri tiga orang laki-laki berpakaian lengkap polisi. Salah satunya melihat kami melintas di situ, dan menyuruh kami untuk minggir ke tepian jalan. Tanpa tahu apa-apa, polisi menyuruh saya untuk mengeluarkan surat-surat kendaraan. Tanpa ragu saya tunjukkan, karena memang surat kendaraan saya lengkap. Tapi setelah SIM saya dipegang polisi itu, si polisi langsung to the point bilang kalau saya ditilang karena saya melintasi wilayah yang terlarang untuk dilalui kendaraan roda dua. Nah lho.. Jujur saya kaget. Karena memang tidak tahu menahu kalau wilayah itu dilarang untuk dilalui. Polisi pun lanjut menyatakan kalau saya harus ikut sidang di hari jumat, dan membayar sanksinya saat sidang itu. Makin bingung lagi, karena saya di Jakarta hanya sebentar. Membayangkan kalau harus menunggu sidang selama itu saya pun langsung kalang kabut. Sejadi-jadinya saya memohon pada si polisi untuk membebaskan, karena memang jujur saya sendiri tidak tahu. Tapi si polisi tetap ngotot, dan mengeluarkan statement “Gini aja, saya kasih keringanan. Kalau mau bebas sekarang, bayar aja Rp 250rb ditempat”. BUSET dah, makin bingung sejadi-jadinya. Saya pun memohon lagi, tapi tidak juga menggoyahkan hati si polisi. Saya berusaha menenangkan diri. Diam beberapa saat. Tapi si polisi malah bilang, “Udah cepet, ngapain mikir lama. 250rb sekarang, saya bantu nih. Banyak CCTV di sini. Nggak enak saya”. Akhirnya saya kasih senilai yang polisi itu minta. Sebelum saya kasih, saya tanya lagi ke arah mana harusnya saya lewat untuk sampai Pulo Gadung, tapi jawabannya malah ketus. “Udah bayar dulu, nanti saya kasih tahu”. Setelah uang saya kasih, bukannya dikasih tahu rutenya malah si polisi nyuruh putar balik.

Dari peristiwa ini, saya menyimpulkan kalau fungsi polisi di negeri ini tidak lebih adalah sebagai tukang palak. Memanfaatkan segala kondisi yang ada dari pengendara motor yang lengah. Kalau dipikir secara logika, harusnya polisi bisa melindungi, mengayomi, dan mengarahkan pada pengguna jalan ke arah dan jalan yang benar, terutama bagi orang baru yang sama sekali belum tahu arah. Pokoknya berhati-hati lah kalo bawa motor ke jakarta malam hari apalagi buat pemula seperti saya dan teman saya.

Duh akhirnya lega juga udah numpang curhat disini. Terimakasih ya Neng. Semoga nanti mas ada rezeki lagi buat traktir siomay sak-grobaknya juga kalo perlu.

Haha… gimana ceritanya udah sedih belum, guys? Yah pokoknya seribu puk-puk buat mamasku itu. Kalo ketemu Pak Pulisinya ingin sekali saya berucap, “Pak… plis atuhlah kami teh pasangan LDR yang lagi pengangguran.. jangan suka malak gitu.. LDR aja udah perih, apalagi dipalak.. ” 😦 😦

Advertisements

7 thoughts on “mamas VS pak pulisi

  1. Aku ikut periiiih disiniiiii *tunjuk dada* *tunjuk dompet* sabar ya shaaaay, ujian buat LDR kalian biar makin solid n lulus. Ini komennya malah fokus ke bloggernya 😂😂😂

  2. iyaaa bener kata dilaaa.. yang baca ikutan periiih banget.. tapi bener deh.. aku makin ke sini makiiin ngga simpatiii sama polisi.. *biarin aja yang baca ada polisi, pacar polisi, atau kerabat polisi*.. Mana ada deket polisi mendapa kedamaian.. yang ada deg2-an dipalak apalagi nih sama polisi..

    maaap ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s