Patah hati

“ Marriage can wait, education cannot “–Khaled Hosseini.

Kalau ada perempuan yang terus berbuat kesalahan yang sama, nggak mau belajar, boleh ga sih ngejudge bodoh?. Boleh lah yaaa.. *bolehin aja, lagi emosi nih*

Tersebutlah ada seorang perempuan bernama Bunga, dia tahun ini baru berusia 17 tahun dan sudah 2 kali melahirkan. Kok bisa? Iya bisa. Jadi setahun lalu dia terpaksa menikah karena hamil diluar nikah, fast forward janinnya malah ga selamat karena lahir prematur. Kami orang-orang disekelilingnya patah hati sekali. Sakit hati rasanya ikut menguburkan bayi tak berdosa umur 4 hari yang sempat kami lihat dia bernapas namun akhirnya gak kuat karena bobotnya terlalu ringan dan orangtuanya nggak mau (udah dikasih tau) bawa bayi itu ke RS untuk diinkubator. What a pity…

Waktu pun berjalan, kami berharap Bunga mulai berubah dan mau belajar atas kesalahannya. Bunga pun diberi kepercayaan lagi, ia mengandung lagi. Kali ini katanya janinnya kembar. Kami keluarga dan para tetangga pun menyemangatinya dan selalu mengingatkan agar dia ga terlalu kecapekan, gak sering bawa motor kemana-mana dan banyak istirahat. Gimanapun kehamilan kedua, dengan usia diri masih dibawah 20 tahun resiko kegugurannya tinggi. Tapi ya gimana lagi, entah anaknya bebal atau sudah gak bisa dikasih tau.

Kemarin magrib ia baru pulang dari mall dan membonceng adiknya pakai motor. Sehabis orang-orang shalat tarawih, di rumahnya malah ramai. Ternyata ketubannya katanya pecah. Ya Rabb.. apalagi ini? Kandungannya belum juga 5 bulan !. Rasanya campur aduk pas saya dan mamah saya berjalan ke rumahnya yang persis dibelakang rumah saya buat liat keadaan dia.

Saya memang belum menikah, belum tau sekalipun rasanya hamil dan punya anak. Tapi melihat ada seseorang yang nggak menjaga kehamilannya, ga menunaikan hak calon bayinya dengan baik (banyak istirahat dll), itu rasanya sakit hati sekali. Rasanya saya ingin ikut memarahi bunga. Tapi, siapa saya..?

Sampai di rumahnya ternyata sudah ada beberapa bidan puskesmas yang menangani sambil menunggu ambulans datang. Alhamdulillah Bunga sudah di infus dan sedang dijaga agar air ketubannya tidak semakin habis. Saya gak sanggup berlama-lama disana, saya sedih sekali lihat bunga.

Akhirnya tak berapa lama kemudian, ambulans desa datang dan suami bunga yang juga belum 20 tahun usianya serta para tetangga lelaki membantu mengangkat Bunga dari kamar. Bunga pun dibawa ke rumah sakit.

***

Pagi ini mamah membangunkan saya dengan tergesa.

” Mbak buruan bangun, itu anaknya Bunga udah mau dimakamkan. Kamu ngelayat dulu gih sebelum dikafani.. ”

Saya yang masih setengah ngantuk langsung bingung. Bayi? Makam? Kafan? Ada apaan sih…

Lalu saya ingat kejadian semalam dan bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka.. menyambar jaket dan kerudung. Saya menguatkan hati buat ke rumah bunga. Sampai disana ternyata sudah banyak tetangga yang melayat. Ada sebuah kasur kecil ditengah rumah yang ditutupi kain agak tebal. Ah, itu pasti jenazah bayinya. Konon kalau sudah 5 bulan.. bentuk janin sudah utuh. Saya baca bismillah.. menguatkan diri untuk melihat beberapa detik.

Allahu akbar..
Innalillahi…

Tangis saya langsung pecah. Ada dua janin mungil dihadapan saya. Bunga ternyata hamil anak kembar. Keduanya perempuan… ya Rabb… saya patah hati.

Patah hati sekali…..

***
Saya berharap ini cerita fiksi, tapi sayangnya ini nyata.

Advertisements

2 thoughts on “Patah hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s