Mahasiswa keras kepala

Suatu sore di awal bulan desember 2013 di kampus A UNJ Jakarta…

Mahasiswa keras kepala (MKK) : Bu, pendaftaran SHP sudah dibuka.. saya tau skripsi saya baru masuk bab 4, tapi bolehkah saya sedikit berharap untuk bisa ikut daftar bu? Saya ingin wisuda bulan maret.

Dosen Pembimbing 1(DP1): Nur, ibu tau kamu sudah berjuang keras.. tp ibu nggak mau kamu kecewa nak. Ibu ingin kamu lebih realistis, skripsi kamu baru masuk bab 4. Tapi coba kamu konsultasi juga ke dosen pembimbing 2 mu.

Lalu si mahasiswa keras kepala pulang ke rumah dengan super sedih, menangis dengan dramanya di travel sepanjang perjalanan jakarta-karawang. Dia pengen banget wisuda bulan maret. Dia harus lulus awal tahun 2014. Tapi dosennya menyuruh dia menyerah saja.

Minggu ke dua desember, konsultasi dengan dosen-dosen di jurusan yang dia cukup kenal dekat. Hampir semuanya mengamini pembicaraan mahasiswa itu dengan dosen pembimbingnya minggu lalu. Mereka menyuruh mahasiswa itu menyerah juga dan melihat kenyataan. Mereka bilang mahasiswa itu meski tak lulus tahun ini tetap hebat dan jadi salah satu mahasiswa kebanggaan mereka. Mahasiswa itu menangis lagi…

Masih minggu kedua di bulan desember 2013..

Mahasiswa itu akhirnya memberanikan diri menghadap dosen pembimbing keduanya. Ia bahkan mengumpulkan keberaniannya untuk mengeinterupsi 5 menit waktu sang dosen untuk konsultasi ditengah rapat pengurus yayasan Labschool yang diisi orang-orang penting. Semua mata memandang ke arah mahasiswa yang sudah diambang putus asa itu ketika ia memasuki ruangan rapat yang super nyaman. Penampilannya yang lusuh dan sudah hampir putus asa kontras sekali di ruangan itu.

And miracle happens…

Mahasiswa itu sibuk menyusun beragam kata saat akan menghadap dosennya. Ia pikir hari itu memang penentuan masa depan skripsinya. Meminta bantuan kepada dosen pembimbing duanya agar dia diizinkan ikut SHP dan sidang skripsi meski skripsinya masih di bab 4 dan terus ia kerjakan siang malam. Tanpa ia duga semua kata-kata yang sibuk ia siapkan tak terpakai banyak, ibu dosen cantik itu tanpa banyak kata langsung memahami keinginannya. Ingin lulus, tak ada biaya untuk bayaran lagi disemester depan yang tetap harus dibayar utuh tanpa potongan dan besarannya sekitar 3.1 juta karena si mahasiswa itu sudah berjanji pada orangtuanya jika saat itu adalah semester terakhirnya di kampus dan tak ada biaya tambahan.

DP2: ” Ok ibu mengerti perasaanmu nak.. dan ibu juga berharap kamu bisa ikut SHP bulan januari. Batch terakhir.. ”
MKK: ” Tapi bu, jadwal SHP terakhir desember ini.. ”

DP2: ” Apa kamu bisa menyelesaikan bab lima skripsimu dalam waktu 2 minggu?”

MKK: ” Insyaallah bisa bu.. sangat bisa…”

DP: “Baiklah.. besok kamu datang menghadap ketua jurusan dan bilang kalau kamu minta SHP januari. Ibu indira yang minta. Ibu juga akan menghubungi beliau hari ini juga… ”

MKK: ” Ibu serius bu?”

DP2: ” Beneran nak.. masa hal seperti ini dibecandain. Jangan bodoh dong.. ! Udah sana pulang.. ibu mau rapat lagi..” Oh iya, soal dosen 1 mu..nanti ibu yang hubungi juga..”

MKK: *mulai gemetar dan tak percaya* baik bu… terimakasih banyak bu… terimakasih banyak…”

Mahasiswa itu keluar ruangan rapat dengan berjuta perasaan. Ia pun tertawa sambil menangis dan jadi tontonan anak SMA di sekolah itu yang kebingungan melihatnya. Mahasiswa itu sangat bahagia…

Minggu ketiga desember..

Ketua jurusan: ” Ok, saya sudah mendapat telepon dari dosenmu. Satu persyaratan saya adalah kamu harus menyetorkan 5 bab skripsimu sebelum natal atau kamu tak ikut sidang sama sekali… ”

MKK: ” Iya pak… saya siap..”

Mahasiswa itu merasa harus berjuang lebih keras. Tuhan memberinya kesempatan padanya dan ia tak mau menyia-nyiakannya. Tapi ada yang aneh di tubuhnya, perut sebelah kanannya semakin hari semakin terasa sakit. Tapi ia memilih mengabaikannya. Yang ia tahu hanya bahagia bisa diizinkan sidang skripsi di bulan januari 2014.

1 januari 2014.
Mahasiswa itu pergi makan bersama keluarganya untuk perayaan kecil tahun baru. Mereka makan bersama di sebuah restoran. Perutnya terasa semakin sakit.

2 januari 2014.
Sore itu ia pergi memeriksakan diri ke klinik dekat rumahnya karena perutnya semakin sakit. Dokter mendiagnosisnya gejala appendiktis atau usus buntu. Ia pun dirujuk ke poli bedah umum di rumah sakit kota kecil itu.

3 Januari 2014, RSUD Karawang.
Mahasiswa itu positif usus buntu dan harus di operasi. Dunianya sekali lagi terasa sempit. Minggu depan ia diberi kesempatan SHP tapi dokter menyuruhnya operasi. Dia bingung luar biasa dan akhirnya mencoba bernegosiasi dengan Dokter spesialis bedah dengan kemungkinan penundaan operasi.

4 Januari 2014, RSUD karawang
Mahasiswa itu ditemani kakaknya menandatangani kertas jadwal operasi. Tertulis dikertasnya: 22 Januari 2014. Menunda operasi hampir 3 minggu. Bismillah…

13 Januari 2014, Kampus A UNJ Jakarta.

Mahasiswa itu akhirnya ikut SHP atau seminar hasil penelitian. Ia diuji oleh 3 dosen dan untungnya berjalan lancar. Namun ada satu dosen yang menyarankan agar ia merubah metode penelitiannya tanpa merubah hasil penelitian. Dia hampir menangis saat itu. Hanya tersisa 7 hari menuju sidangnya. Akankah ia bisa merevisi dalam waktu sesempit itu? Akhirnya ia memutuskan untuk ke bogor, menemui temannya untuk membantu merubah isi bab 3,4, dan 5 skripsinya. Saat itu sampai dua hari ke depan mahasiswa itu tidak mengenal kata tidur untuk menyelesaikan skripsinya. Lalu si mahasiswa itu pulang dari bogor menggunakan bis dan menangis sepanjang jalan karena perutnya terasa sakit sekali. Gabungan dari bergadang dan terus menerus duduk tegak di depan laptop berjam-jam selama dua hari. Tapi ia tetap tak mau menyerah…

18 Januari 2014, Panglima polim jakarta selatan.

Mahasiswa itu melakukan bimbingan terakhir di rumah dosen pembimbingnya. Butuh waktu 2-3 jam untuk sampai kesana dari rumah mahasiswa itu di karawang. Selesai bimbingan dari rumah dosen tentu saja ia masih harus berjuang pulang ke rumah di jam pulang kantor dan tak kebagiaan tempat duduk di bis. Ia tahu Allah tetap bersamanya meski ia kembali diam-diam menangis. Perutnya sakit..

20 Januari 2014, Kampus A UNJ Jakarta

Mahasiswa itu sudah sampai di kampus jam 8 pagi. Hari itu paling dia tunggu sejak beberapa bulan lalu. Hari itu jadwalnya sidang skripsi bersama 6 orang mahasiswa lainnya. Hari itu terasa amat panjang baginya.. tapi ia tetap tak mau mengeluh. Hanya perasaan bahagia dan tegang yang ia rasakan sepanjang hari. Tepat jam 14.30 siang gilirannya pun tiba. Ia masuk ke ruangan yang berisi 4 dosen penguji. Seharusnya ada 5 orang namun dosennya masih diperjalanan dan sedang mengusahakan untuk datang. Fast forward akhirnya sidang hari itu selesai… ia pun keluar ruangan dengan rasa haru membuncah didadanya. Ia melangkah cepat ke ruangan membaca jurusan tempat teman-temannya menunggu. Ia pun bersujud sambil menangis dan terus menangis. Satu persatu temannya memeluknya. Sore itu, mahasiswa keras kepala itu resmi jadi sarjana. Sarjana pendidikan…. !!!
Malam itu ia pulang pukul 18.30 dari kampus dan tiba dirumahnya di karawang sekitar pukul 21.30 malam. Perjuangan belum berakhir sampai di keesokan harinya….

21 januari 2014. RSUD Karawang

Dokter memberi hadiah teristimewa di hari pertama setelah sidang skripsi kemarin siang. Mahasiswa itu harus masuk rumah sakit untuk opname dan menjalankan operasi usus buntu tanggal 22 januari sesuai kesepakatannya dengan dokter 3 minggu yang lalu. Ia bersama ibu dan kakaknya kemudian memilih satu kamar untuk menginap malam itu, puasa, dan tentu saja merevisi hasil sidang skripsi. Jadi malam itu si mahasiswa menghabiskan waktu untuk merevisi hasil sidang skripsi sambil sesekali meringis karena tangannya sudah mulai diinfus.

22 Januari 2014, RSUD Karawang

Hari itu tiba. Seumur hidup mahasiswa itu belum pernah masuk ke ruangan operasi. Maka hari itu pun dia masih bisa tertawa-tawa dan menggoda tim dokter yang akan bertugas..sampai akhirnya obat bius ditubuhnya bekerja sempurna. Semua menggelap.. dan akhirnya ia terbangun di ruang pemulihan dan beristirahat sampai beberapa hari ke depan. Istirahat yang panjang dan paling mahal yang harus ia bayarkan setelah berbulan-bulan menyelesaikan skripsi. Tapi mahasiswa itu tetap bersyukur atas pilihannya untuk keras kepala dulu. Setidaknya dua bulan kemudian akhirnya ia wisuda dan membuat orangtuanya bangga dengan predikat lulus dengan pujian.

Mahasiswa keras kepala itu adalah Saya 🙂

Advertisements

12 thoughts on “Mahasiswa keras kepala

  1. Reblogged this on .ndutyke. and commented:
    Very inspiring story. Ikhtiar yg bener-bener ga kenal lelah dan sakit. Semoga barokah dan banyak memberi manfaat ya, gelar Sarjana Pendidikan-nya 🙂

    1. makasih mem tyke.. ceritanya emg drama abis ya.. tp alhamdulillah berakhir bahagia dan lumayan ada bahan ceritaan bwt anak cucu ntar *jauh amat mikirnya hihi*

  2. ikut nangis pas denger whatsapp ” mbakti ,aku harus di operasi usus buntu” ..ya oloh. drama apa lagi. tapi pey, kalau hidupmu jalannya lurus2 aja, mana enak. 🙂

    1. iyah mbakti.. gue rasa gw kena kutukan drakor yee hdupnya drama mulu.. tp semoga endingnya kyk kebanyakan drakor ya.. berakhir bahagia *tsah* 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s